Suasana Minggu (13/12/2015) pagi di
stasiun Jakarta Kota dipadati oleh kedatangan orang-orang yang ingin berwisata ke kota tua Jakarta melalui
transportasi kereta api Commuter Line
Jabodetabek.
Tepatnya pukul 08.10 WIB, kereta Commuter Line Jabodetabek yang membawa saya dan penumpang lainnya
berangkat menuju Jakarta Kota. Saya menaiki kereta Commuter Line dari stasiun Kranji dengan menempuh jarak dan waktu untuk
sampai ke stasiun Jakarta Kota hanya 25 km dan satu jam perjalanan.
Tak lama
kemudian, saya pun tiba di stasiun yang megah yaitu stasiun Jakarta Kota pada pukul
09.10 WIB. Perjalanan pertama saya menuju lapangan museum Fatahillah. Di sana
banyak pedagang yang menjual makanan khas Betawi. Saya pun beristirahat
terlebih dahulu sambil memakan kerak telur dan menikmati suasana pagi di kota
tua. Setelah itu, saya menyewa sepeda ontel untuk berkeliling sekitar lapangan
museum Fatahillah. Setelah saya puas berkeliling dengan sepeda ontel, saya pun
langsung memasuki ruangan museum Fatahillah.
Pintu masuk yang saya masuki pertama adalah sebelah
sisi kanan, ada sebuah patung yang mengambarkan hukuman gantung. Tak jauh dari
patung tersebut terdapat ruangan yang menyimpan foto-foto kota jakarta dari
masa ke masa. Beranjak ke ruang berikutnya terdapat prasasti-prasasti dengan
ukuran yang lumayan besar seperti prasasti ciareuteun, prasasti tugu, prasasti
kebun kopi dan sebagainya. Berjalan dari ruangan tersebut, saya menemukan
sebuah ruangan yang menyimpan replika dari kapal portugis yang dulunya pernah
singgah ke Jakarta.
Di ruangan lainya terpampang senjata-senjata tradisional seperti Rencong,
Celurit, Trisula dan Mandau.
Setelah puas mengitari lantai satu museum
Fatahillah, saya langsung bergegas ke taman belakang museum. Di sana saya
menemukan sebuah meriam yang bernama meriam Sijagur, benda ini juga menjadi
daya tarik dari museum Fatahillah. Meriam Sijagur memiliki panjang 3 meter
dengan berat mencapai 3,5 ton. Di lokasi ini terdapat ruangan bawah tanah yang
dulunya digunakan sebagai penjara.
Di museum ini, saya menjumpai objek-objek antara
lain perjalanan sejarah Jakarta, replika, peninggalan masa Tarumanegara dan
Padjajaran, hasil penggalian arkeologi di Jakarta, penjara bawah tanah
laki-laki dan wanita, mebel antik mulai dari abad ke-17 sampai 19 yang
merupakan perpaduan dari gaya Eropa, Republik Rakyat Cina, dan Indonesia.
Selain itu, terdapat juga koleksi tentang kebudayaan Betawi, keramik, gerabah,
batu prasasti, alat musik gong, becak, patung Dewa Hermes. Koleksi-koleksi
tersebut terdapat di berbagai ruang, seperti ruang Prasejarah Jakarta,
Tarumanegara, Jayakarta, Fatahillah, Sultan Agung, dan MH Thamrin.
Fasilitas di Museum Fatahillah terbilang cukup
komplit, saya menjumpai perpustakaan dengan koleksi 1200 buku. Sebagian besar
buku-buku tersebut adalah peninggalan masa kolonial Belanda. Sehingga buku-buku
tersebut didominasi oleh bahasa Belanda, Arab, Melayu dan Inggris.
Pada pukul 12.10 WIB saya menyempatkan untuk sholat
zhuhur terlebih dahulu di musholla museum Fatahillah. Sehabis itu, saya
beristirahat sejenak untuk makan siang di kantin sebelum melanjutkan perjalanan
kembali. Saya melanjutkan perjalanan ke ruang pameran dan pertemuan, serta sinema
Fatahillah. Dan perjalanan saya akhiri dengan berbelanja di toko souvenir,
kaos, dan makanan.
Pukul 15.00 WIB saya meninggalkan kota tua untuk
bergegas pulang ke rumah dengan menaiki kereta Commuter line Jabodetabek dari stasiun Jakarta kota menuju Kranji.

JAS MERAH
BalasHapusJangan sekali-kali melupakan sejarah
Pengalamannya seru sekali ya, tulisannya bagus banget. Setelah baca ini saya jadi merasa seolah2 ini pengalaman saya hehehe, nice. Lanjutkan!
BalasHapusKota tua memang tempat yg bagus selain bisa bertamasya bisa sekalian belajar sejarah
BalasHapusKota tua tempat wisata yang murah dan meriah,terima kasih infonya.
BalasHapus