Sabtu, 29 Oktober 2016

Perjalanan Wisata ke Kota Tua Jakarta




















Suasana Minggu (13/12/2015) pagi di stasiun Jakarta Kota dipadati oleh kedatangan orang-orang yang ingin  berwisata ke kota tua Jakarta melalui transportasi kereta api Commuter Line Jabodetabek.

Tepatnya pukul 08.10 WIB, kereta Commuter Line Jabodetabek yang membawa saya dan penumpang lainnya berangkat menuju Jakarta Kota. Saya menaiki kereta Commuter Line dari stasiun Kranji dengan menempuh jarak dan waktu untuk sampai ke stasiun Jakarta Kota hanya 25 km dan satu jam perjalanan.

Tak lama kemudian, saya pun tiba di stasiun yang megah yaitu stasiun Jakarta Kota pada pukul 09.10 WIB. Perjalanan pertama saya menuju lapangan museum Fatahillah. Di sana banyak pedagang yang menjual makanan khas Betawi. Saya pun beristirahat terlebih dahulu sambil memakan kerak telur dan menikmati suasana pagi di kota tua. Setelah itu, saya menyewa sepeda ontel untuk berkeliling sekitar lapangan museum Fatahillah. Setelah saya puas berkeliling dengan sepeda ontel, saya pun langsung memasuki ruangan museum Fatahillah.

Pintu masuk yang saya masuki pertama adalah sebelah sisi kanan, ada sebuah patung yang mengambarkan hukuman gantung. Tak jauh dari patung tersebut terdapat ruangan yang menyimpan foto-foto kota jakarta dari masa ke masa. Beranjak ke ruang berikutnya terdapat prasasti-prasasti dengan ukuran yang lumayan besar seperti prasasti ciareuteun, prasasti tugu, prasasti kebun kopi dan sebagainya. Berjalan dari ruangan tersebut, saya menemukan sebuah ruangan yang menyimpan replika dari kapal portugis yang dulunya pernah singgah ke Jakarta. Di ruangan lainya terpampang senjata-senjata tradisional seperti Rencong, Celurit, Trisula dan Mandau.

Setelah puas mengitari lantai satu museum Fatahillah, saya langsung bergegas ke taman belakang museum. Di sana saya menemukan sebuah meriam yang bernama meriam Sijagur, benda ini juga menjadi daya tarik dari museum Fatahillah. Meriam Sijagur memiliki panjang 3 meter dengan berat mencapai 3,5 ton. Di lokasi ini terdapat ruangan bawah tanah yang dulunya digunakan sebagai penjara.

Di museum ini, saya menjumpai objek-objek antara lain perjalanan sejarah Jakarta, replika, peninggalan masa Tarumanegara dan Padjajaran, hasil penggalian arkeologi di Jakarta, penjara bawah tanah laki-laki dan wanita, mebel antik mulai dari abad ke-17 sampai 19 yang merupakan perpaduan dari gaya Eropa, Republik Rakyat Cina, dan Indonesia. Selain itu, terdapat juga koleksi tentang kebudayaan Betawi, keramik, gerabah, batu prasasti, alat musik gong, becak, patung Dewa Hermes. Koleksi-koleksi tersebut terdapat di berbagai ruang, seperti ruang Prasejarah Jakarta, Tarumanegara, Jayakarta, Fatahillah, Sultan Agung, dan MH Thamrin.

Fasilitas di Museum Fatahillah terbilang cukup komplit, saya menjumpai perpustakaan dengan koleksi 1200 buku. Sebagian besar buku-buku tersebut adalah peninggalan masa kolonial Belanda. Sehingga buku-buku tersebut didominasi oleh bahasa Belanda, Arab, Melayu dan Inggris.

Pada pukul 12.10 WIB saya menyempatkan untuk sholat zhuhur terlebih dahulu di musholla museum Fatahillah. Sehabis itu, saya beristirahat sejenak untuk makan siang di kantin sebelum melanjutkan perjalanan kembali. Saya melanjutkan perjalanan ke ruang pameran dan pertemuan, serta sinema Fatahillah. Dan perjalanan saya akhiri dengan berbelanja di toko souvenir, kaos, dan makanan.


Pukul 15.00 WIB saya meninggalkan kota tua untuk bergegas pulang ke rumah dengan menaiki kereta Commuter line Jabodetabek dari stasiun Jakarta kota menuju Kranji.

4 komentar:

  1. JAS MERAH
    Jangan sekali-kali melupakan sejarah

    BalasHapus
  2. Pengalamannya seru sekali ya, tulisannya bagus banget. Setelah baca ini saya jadi merasa seolah2 ini pengalaman saya hehehe, nice. Lanjutkan!

    BalasHapus
  3. Kota tua memang tempat yg bagus selain bisa bertamasya bisa sekalian belajar sejarah

    BalasHapus
  4. Kota tua tempat wisata yang murah dan meriah,terima kasih infonya.

    BalasHapus